PERAN IBU DALAM PENDIDIKAN ANAK
Oleh Abu Rufaydah
Syaikh Dr. Khalid Ahmad Asy-Syantut Rahimahullah sebagai pakar Pendidikan dari King Abdul Aziz University Jeddah Arab Saudi, beliau selalu menyertakan peran Ibu dalam pendidikan anak. Hal ini tidaklah heran karena besarnya peran ibu dalam pendidikan anak, ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Pepatah mengatakan : Sesungguhnya di belakang setiap tokoh yang agung ada seorang wanita yang agung. Berikut ini akan kita bahas peran ibu dalam pendidikan anak.
Sejak dahulu kala, wanita mempunyai peran yang tidak bisa dipandang sebelah mata apalagi dilupakan, terutama jika ada pihak yang mengasuhnya dan membawanya kepada kebenaran dengan pendidikan dan pembinaan yang baik, bahkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam telah menjamin baginya surga. Dari hasil pembinaan yang dinamis terhadap wanita, maka akan lahirlah wanita yang mampu memberi buah yang teramat ranum dan pohon-pohonnya menaungi alam semesta dengan kedamaian dan kebaikan.
Wanita (ibu) ibarat pedang bermata dua, apabila dia baik dan menunaikan tugas-tugasnya yang utama beserta tujuan yang terlah digariskan, maka dia laksana batu bata yang biak bagi sebuah bangunan masyarakat islam yang memiliki karakter akhlak yang kuat dan keyakinan yang teguh. (Mahmud Mahdi al-Istambuli dalam Muqoddimah Nisaa Haula Rasul).
Syaikh Dr. Khalid Ahmad Asy-Syantut Rahimahullah melanjutkan bahwa peran ibu dalam pendidikan lebih dahulu bermain daripada peran ayah, karena seorang ibu lebih dekat kepada anak, dan anak adalah bagian darinya, serta emosi ibu kepada anak lebih kuat daripada emosi seorang ayah. Dari sinilah pentingnya memilih istri yang agamanya baik.
Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan suatu hadits dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kemuliaan nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka nikahilah wanita yang baik agamanya niscaya kamu beruntung.
Seorang penyair berkata :
الأم مدرسة إذا أعددتها أعددت شعبا طيب الأعراق
Ibu adalah madrasah (tempat belajar) bila kau mempersiapkannya, kau telah menyiapkan bangsa yang hebat.
Allah telah membekali seorang ibu dengan naluri keibuannya yang tidak diberikan kepada seorang ayah. Naluri ini secara fisik merupakan naluri yang paling kuat dari semua naluri fisik lainnya. Para Ahli ilmu kejiwaan telah melakukan penelitian pada tikus, dan dari percobaan itu mereka telah menemukan bahwa stimulan fisik seorang ibu akan menghasilkan berbagai hal sebagai seperti : keibuan, kehausan, kelaparan, dan seksualitas. Karena itu, seorang ibu siap untuk melindungi anak dan berkorban demi anaknya, baik dalam kondisi istirahat maupun tidur, sedangkan dirinya tetap ridha.
Factor tersebut dapat membuat ibu kuat untuk bergadang demi kenyamanan anaknya, terutama pada usia dua tahun pertama, dimana peran seorang ayah pada saat seperti itu masih sangat sedikit. Dua tahun pertama memiliki pengaruh sangat besar terhadap kepribadian anak. Ilmu kejiawan belum bisa mendeteksi dimanakah letak rahasianya. Diantara fenomena itu, bahwa bayi dapat mengenali ibunya dari baunya, kemudian mengenali suaranya. Sebagaimana pula bahwa bahasa ibu merupakan bahasa pertama yang diikuti oleh anak. Mayoritas emosi seorang anak pada tahun pertama berkaitan dan terpusat pada ibu, atau orang yang menggantikan peran ibu tersebut. (Daur Bait Fii Tarbiyatith Thiflil Muslim).
Konsep pendidikan islam adalah konsep pendidikan yang berlandaskan wahyu, bukan konsep percobaan atau penelitian. Maka bagi seorang muslim harus menyakini, membenarkan dan melaksanakan apa yang Rasulullah sampaikan. Tanpa perlu meneliti dan mengkaji kembali. Sebagian kaum muslimin baru meyakini konsep Nabi adalah konsep terbaik setelah para peneliti Barat membuktikan kemukjizatan Nabi. Bagi kaum muslimin yang taat pada Allah dan Rasul-Nya hendaknya mendahulukan perkataan keduannya dibandingkan dengan yang lain. Bila kita sudah paham konsep Nabi yang terbaik, maka untuk apa mencari konsep yang lain.
Selanjutnya, bila kita sudah paham bahwa anak sejak bulan keenam telah mulai terbentuk hubungan socialnya dengan lingkungann sekitarnya, maka menjadi jelaslah bagi kita pentingnya peran ibu bagi pendidikan anak. Seorang peneliti, Samiyah Hamam menemukan bahwa dampak ketidak hadiran ibu jauh lebih besar daripada dampak ketidak hadiran ayah bagi anan-anak. Karena ibu yang bijaksana dapat mengisi sebagian kekosongan yang tidak diisi oleh ayah.
Mengingat pentingnya peran ibu dalam pendidikan, kita akan mengisyaratkan keistimewaan syariat islam yang telah megumpulkan alasan-alasan yang cukup untuk menjadikan seorang ibu berada dalam posisi yang tepat sesuai dengan tujuan Allah menciptakannya. Sehinga kaum ibu bisa beribadah kepada Allah dalam rumahnya sendiri. Diantara alasa-alasan tersebut adalah :
1. Asal dari wanita adalah tinggal dirumah. Allah berfirman : Dan berdiamlah kalian di rumah-rumah kalian…. (QS. Al-Ahzab 33 : 33). Allah juga menjadikan shalatnya wanita dirumah lebih utama daripada shalat di masjid.
2. Laki-laki (suami, ayah, anak laki-laki, atau saudara laki-laki) dibebani menafkahi seorang wanita (atau istri), agar dia bisa nyaman di rumah dan focus terhadap tugas yang sebenarnya.
Mari kita lihat bagaimana Al-Qur’an, hadist dan Atsar ulama yang mengisahkan betapa pentingnya peran ibu bagi anak, dan ibu mampu mendidik anaknya tanpa seorang ayah. Diantara kesuksesan seorang ibu adalah Hajar. Ia wanita teladan dalam akhlaknya yang baik dan perilakunya yang indah. Ia mendidik anaknya, Nabi Ismail, dan mengasuhnya sejak kecil hingga dewasa, sehingga akhirnya Nabi Ismail menjadi orang yang mampu mendaki di tangga kehidupan.
Hajar menggadaikan kehidupannya agar anaknya hidup dengan kehidupan yang baik dan anaknya adalah buah ranum yang mendatangkan manfaat dengan izin Allah. Siapa saja yang membuka lembaran kehidupan Nabi Ismail, ia pasti mendapati kehidupannya serat dengan aroma wangi dan parfum harum. Kehidupan Nabi Ismail Alihis Salam menegaskan bahwa beliau adalah seorang laki-laki dengan segala makna laki-laki itu sendiri. Beliau sabar terhadap musibah dan cobaan yang datang kepadanya, ridha dengan qadha’ dan takdir Allah. Beliau tanaman baik milik ibu yang juga baik. Apakah semua ini terjadi begitu saja tanpa adanya pendidikan dan peran seorang ibu ?
Kisah sebaiknya, kita lihat contoh pada Istri Nabi Nuh Alahis Salam yang gagal dalam mendidik anaknya, akhlak buruk lebih mendominasinya, akibatnya fitrahnya hancur lebur dan ia tidak mampu mendidik anaknya dengan baik. Akibatnya, anaknya menjadi kafir seperti dirinya. Pada kedua contoh diatas, kita lihat bahwa ayah keduanya adalah Nabi dan keduanya pasti mendidiknya dengan baik tanpa ada keragu-raguan didalamnya. Tapi, ibu mempunyai peran lebih besar dan lebih perpengaruh pada anak-anaknya.
Contoh lain ada pada Mariyam binti Imran yang mampu mendidik Isa Alahis Salam, Asiah istri Fir’aun yang sukses mendidik Musa Alaihis Salam ditengah keluarga yang dictator dan kejam. Dalam buku yang ditulis oleh Ustadz Dr. Sufyan bin Fuad Baswedan, MA Hafidhohullah yang berjudul Ibunda Para Ulama, beliau menulis beberapa ulama dari kalangan sahabat dan tabi’in yang sukses dalam mendidik anaknya. Atau buku yang ditulis oleh Syaikh Dr. Abdullah Al-Luhaidan dan Syaikh Dr. Abdullah al-Muthawwi’ yang berjudul Aitam Walakin Udzoma menyebutkan beberapa ulama yang lahir dalam keadaan yatim, diantaranya sahabat Nabi, Zubair bin Awwam, Abu Hurairah, Umar bin Sa’id al-Anshari Radhiallahu Anhum, atau ulama seperti Imam Sufyan Ats-Tsauri, Imam Syafi’I, Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Syaikh Al-Amin Asyinqithi, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di, Syaik Abdul Aziz bin Baz dan yang lainnya. Dari contoh kehidupan diatas, maka jelaslah bahwa peran ibu sangat penting bagi pendidikan anak. Maka musuh-musuh islam sangat gencar memperdayai wanita agar keluar dari fitrahnya.
Lihatlah bagaimana campur tangan Yahudi Internasional dan para agennya dalam merusak jati diri wanita. Karena dengan rusaknya wanita berarti kerusakkan bagi keluarga dan kehancuran masyarakat sekaligus bangsa. Sebagaimana ini hampir terjadi diseluruh dunia. Saya perhatikan di beberapa Negara yang berada dibawah penindasan kolonialisme dalam waktu yang lama, mereka (para penjajah) lebih terfokus untuk merusak wanita daripada merusak pria, berangkat dari kesadaran mereka tentang pentingnya peran wanita dalam masyarakat. Selain itu keluarnya wanita dari rumah untuk bekerja bukanlah suatu kebetulan belaka, tetapi merupakan hasil rancangan kaum kapitalis yang dikendalikan oleh Yahudi yang bertujuan menghancurkan keluarga. (Dr. Khaid Ahmad Asy-Syantut, Tarbiyatul Banaat Fii Baitil Muslim, hal. 14-15).
Para gembong penjajah berkata : “Gelas (khamr) dan biduanita, akan sanggup menghancurkan umat Muhammad lebih hebat dari seribu mariam, maka propogandakanlah kepada mereka kecintaan terhadap materi dan syahwat. Seorang dedengkot Masoniah (salah satu organisasi Yahudi) berkata : “Kewajiban kita adalah untuk memperalat wanita, kapan saja mereka siap mengeluarkan kedua tangannya kepada kita sehingga mereka menghiasi yang haram dan mempropogandakan para pahlawan pembela islam.
Telah disebutkan dalam protokolat, “Kita harus bekerja keras untuk merusak akhlak di setiap tempat untuk mempermudah rencana kita, sesungguhnya Sigmund Freud berada dipihak kita. Dia akan mempropogandakan pergaulan bebas di segala penjuru hingga tidak ada lagi istilah tabu bagi para pemuda, maka jadilah kemauan mereka yang utama adalah melampiaskan nafsu libidonya, maka ketika itu akan hancurlah akhlaknya. (Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam Tarbiyatul Aulad I/286-287).
Dari pernyataan mereka diatas, tentunya program mereka sangat sukses. Mereka sukses mengeluarkan wanita dari fitrahnya. Ketika wanita keluar dari rel agama. Maka bukan saja dirinya yang rusak. Akan tetapi generasi muda, keluarga, masyarakat dan Negara akan hancur.
Sebagian wanita mungkin bertanya :”Bukankah pengasuh (baby sister), pendidikm atau pembantu dapat menggantikan posisi ibu yang harus keluar untuk bekerja di luar rumah ?” Jawaban untuk pertanyaan tersebut sederhana. Bahwa hubungan antara ibu dan anak adalah hubungan fisik dengan seluruh maknanya, karena anak adalah bagian darinya. Disamping itu, factor keibun akan mendorongnya untuk menghiasi dan menjaga anaknya. Factor lainnya adalah ibu merawat anaknya dengan dorongan cinta, bukan dorongan kewajiban, seperti yang dilakukan oleh pengasuh atau pembantu.
Terdapat perbedaan besar antara cinta dan kewajiban. Seorang ibu akan menemukan kegembiraan dan kebahagiaan saat memandikan anaknya, karena ia ingin memperbaiki kondisinya. Sementara pengasuh dan pembantu akan merasakan lelah dan bosen dengan pekerjaan itu, bahkan muak ketika mengerjakan tugasnya. Sang bayi pun akan merasa muak dan bosen sebagaimana dia bisa merasakan ridha, cinta dan kasih sayang ketika melihat wajah ibunya, ketika ibunya memandikan dan menyusuinya.
Alexs Karl sangat paham betul tentang peran seorang ibu, ia pernah berkata; “Masyarakat modern telah melakukan kesalahan serius dengan menggantikan pendidikan dilingkungan keluarga dengan pendidikan di sekolah secara total. Oleh karenanya, ibui-ibu meniggalkan anak-anak mereka pada masa menyusui. (Laila Al-Iththar, hal. 62).
Oleh karena itu, hendaknya setiap wanita (ibu) untuk bertaqwa kepada Allah dan meniti jalan para salafush shalih dalam mendidik anak-anaknya. Sehingga pada akhirnya lahirlah dari rahim-rahim mereka orang-orang yang shalih. Untuk laki-laki posisikanlah wanita diposisi yang agung. Jagalah mereka dengan penjagaan yang baik, beruamalahlah dengannya dengan akhlak dan adab yang indah. Wallahu A’lam.